Taritere’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Suami Istri Barjaualan Bakso

Bakso Pak Topi Di Depan Betesdha

Di tengah sulitnya mencari nafkah suami istri mampu berjuang mencari nafkah demi masa depan anak mereka. Cinta dalam keluarga, juga didukung istrinya membuat hati Bapak Soenarto tetap kuat menjalani kehidupan yang semakin hari-semakin sulit. Keluarga akan kokoh berdiri jika keduanya tetap sehati, istri bagaikan penopang bagi sang suami.

Bakso Pak Topi, itulah nama panggilan bagi bakso mereka jual. Awalnya pada tahun 1984 Pak Soenarto berjualan bakso usaha itu tentunya didukung oleh istrinya tercinta sehingga istrinya selalu menemani suaminya ketika berjualan bakso. Pak Soenarto selalu menjajakan baksonya menggunakan topi. Itulah mengapa bakso ini dinamakan bakso Pak Topi. Jika berjalan di tortoar yang terletak persis di depan Rs. Betesdha, disana akan terlihat pedagang kaki lima. Para pedagang diantaranya penjual Es, penjual nasi, dan penjual bakso. Para pedagang yang hanya memiliki warung berukuran 2x4m. tidak pernah berebut mendapatkan konsumen. Pak Soenarto pun mengaku “Rejeki, sudah diatur oleh yang di atas. Kita tidak boleh menggambil rejeki orang!” ternyata dijaman sekarang yang sullit mengambil rejeki mereka saling membantu dan menolong tidak memakan rejeki dari orang lain. Ia tidak takut bersaingan dengan penjual bakso lainnya. karena Pak Suanarto dan Ibu Suartini telah memiliki pelanggan tersendiri

Para pedagang selalu berkerja sama itulah sebabnya mengapa di warung bakso Pak Soenarto tidak menyediakan es teh. Jika ada pembeili kehausan mereka memesan di warung sebelahnya. Setiap pukul 13.00 WIB kursi-kursi yang tadinya kosong diduduki oleh pelangan, para pelangan diantaranya anak sekolah, mahasiswa, tukang parkir, dll. Pada saat Pak Soenarto sholat, ibu Suartini yang melayani pembeli. Mereka berdua sangat kompak dari pukul 10.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB berada di tempat itu. letak rumah mereka tidak begitu jauh mereka berdua tinggal di Paku Alaman setiap kali datang membawa barang-barang dan setiap pulang pun barang barangnya dibawa pulang.

Keutungan berjualan sangat mengiurkan sebualan ia dapat keuntungan 1,5 juta sehingga ia mampu menyekolahkan ke tiga anaknya anak pertama bernama Catuat Esti Wibawati telah lulus SMA dan telah menikah memiliki dua orang anak bernama Alfino kelas 4SD dan Rafi berusia tiga tahun. anak keduanya kuliah D3 jurusan Elektro bernama Nugroho Dwi Wibowa sedangkan anak nomor tiga bernama Wahyu Arif Wijoko baru kelas 3 SD. Bapak Sunarto hanya lulusan SMP dan ia mampu menyekolahkan anaknya hingga kilah. bakso yang dibuatnya bersama istrinya selalu habis setiap hari sehingga ia harus menyediakan 5 kg daging sapi setiap harinya. dahulu pada tahun 1990 ada penggusuran pedagang kaki lima namun saat ini tak ada lagi. Usaha Pak Suanarto selalu didukung oleh istrinya, ia setia untuk menemani suaminya mencari sesuap nasi untuk keluarga.

ampTue, 24 Feb 2009 08:49:43 +000049Selasa 17,2008 - Posted by | Berita

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: