Taritere’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

debat

BAB VII

DEBAT

1. Pengartian

A. Menurut Asidi dipodjojo (Komunikasi Lisan 1982:59)

Debat adalah proses komunikasi lisan yang dinyatakan dengan bahasa untuk mempertahankan pendapat. Setiap pihak yang berdebat akan menyatakan argumen, memberikan alasan dengan cara tertentu agar pihak lawan berdebat atau pihak lain yang mendengarkan perdebatan itu menjadi yakin dan berpihak padanya.

B. Menurut ( KBBI. 2002: 242)

Debat adalah pembahasan atau pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing.

C. Menurut G. Sukadi

Debat pada hakekatnya saling adu argumentasi antar pribadi atau antar kelompok manusia, dengan tujuan mencapai kemenangan.

D. Menurut Hendri Guntur Tarigan (Retorika 1990:120)

Debat pada hakekatnya adalah saling adu argumentasi antar pribadi atau antar kelompok manusia, dengan tujuan mencapai kemenangan satu pihak.

  1. Pengertian debat dalam www/wikimedia.foundation.org/

Debat adalah kegiatan adu argumentasi antara dua pihak atau lebih, baik secara perorangan maupun kelompok, dalam mendiskusikan dan memutuskan masalah dan perbedaan

2. Unsur-Unsur Debat

Pada www/wikimedia.foundation.org/ di temukan beberapa unsur dalam debat yaitu:

a topik debat disebut mosi (motion)

b tim Afirmatif (yang setuju terhadap mosi) sering disebut juga Pemerintah (Government),

c tim Negatif (yang menentang mosi) disebut Oposisi (Opposition)

d pembicara pertama dipanggil sebagai Perdana Menteri (Prime Minister), dan sebagainya

e pemimpin/wasit debat (chairperson) dipanggil Speaker of The House

f penonton/juri dipanggil Members of the House (Sidang Dewan yang Terhormat)

3. Macam-Macam Debat

r berdebat mengorganisasikan pemunggutan suara untuk menentukan pemenang.

Dalam debat tertutup setiap anggota hanya berbicara satu kali. Oleh karena itu pembicara harus menyiapkan diri dan menyusun jalan pikirannya secara cermat dan teliti. Harus padat dan berisi dalam waktu yang singkat. Sebaliknya dalam debat terbuka, orang dapat berbicara lebih dari satu kali sesudah semua berbicara, kedua pembicara pertama dari masing –masing kelompok mengutarakan kata penutup.

1) Debat Amerika

Dalam debat amerika dua regu berhadapan, tetapi masing-masing regu menyiapkan tema melalui pengumpulan bahan secara teliti. Dan penyusunan argumentasi yang cermat. Para anggota kelompok debat ini adalah orang-orang yang terlatih dalam seni berbicara. Mereka berdebat di depan sekelompok juri dan publikum.

Debat dimulai, apabila salah seorang anggota regu membuka pembicaraan dengan membuka tesis dan di jawab oleh pembicara pertama dari regu yang kedua. Proses selanjutnya berlangsung apabila setiap anggota regu berbicara dalam urutan yang bergantian dengan anggota regu yang lainnya. Semua anggota dari kedua regu mendapat kesempatan untuk berbicara. Setipa pembicara harus menyampaikan pandangannya mengenai tema dan tesis yang diperdebatkan.

A. Macam-macam debat yang yang ditemukan dari sumber .http://id.wikipedia.org/wiki/Debat yaitu:

1). Debat kompetitif

adalah debat dalam bentuk permainan yang biasa dilakukan di tingkat sekolah dan universitas. Dalam hal ini, debat dilakukan sebagai pertandingan dengan aturan (“format”) yang jelas dan ketat antara dua pihak yang masing-masing mendukung dan menentang sebuah pernyataan. Debat disaksikan oleh satu atau beberapa orang juri yang ditunjuk untuk menentukan pemenang dari sebuah debat. Pemenang dari debat kompetitif adalah tim yang berhasil menunjukkan pengetahuan dan kemampuan debat yang lebih baik.

2). Debat perlementer

Debat parlementer dibagi menjadi tiga yaitu:

a. Debat perlementer Australia (Australian Parliamentary)

Gaya debat ini digunakan di Australia, namun pengaruhnya menyebar hingga ke kompetisi-kompetisi yang diselenggarakan di Asia, sehingga akhirnya disebut sebagai format Australasian Parliamentary. Dalam format ini, dua tim beranggotakan masing-masing tiga orang berhadapan dalam satu debat, satu tim mewakili Pemerintah (Government) dan satu tim mewakili Oposisi (Opposition), dengan urutan sebagai berikut:

(1). Pembicara pertama pihak Pemerintah – 7 menit

(2). Pembicara pertama pihak Oposisi – 7 menit

(3). Pembicara kedua pihak Pemerintah – 7 menit

(4). Pembicara kedua pihak Oposisi – 7 menit

(5). Pembicara ketiga pihak Pemerintah – 7 menit

(6). Pembicara ketiga pihak Oposisi – 7 menit

(7). Pidato penutup pihak Oposisi – 5 menit

(8). Pidato penutup pihak Pemerintah – 5 menit

Pidato penutup (Reply speech) menjadi ciri dari format ini. Pidato penutup dibawakan oleh pembicara pertama atau kedua dari masing-masing tim (tidak boleh pembicara ketiga). Pidato penutup dimulai oleh Oposisi terlebih dahulu, baru Pemerintah.

Mosi dalam format ini diberikan dalam bentuk pernyataan yang harus didukung oleh pihak Pemerintah dan ditentang oleh Pihak Oposisi, contoh:

(This House believes) That globalization marginalizes the poor.

(Sidang Dewan percaya) Bahwa globalisasi meminggirkan masyarakat miskin.

Mosi tersebut dapat didefinisikan oleh pihak Pemerintah dalam batasan-batasan tertentu dengan tujuan untuk memperjelas debat yang akan dilakukan. Ada aturan-aturan yang cukup jelas dalam hal apa yang boleh dilakukan sebagai bagian dari definisi dan apa yang tidak boleh dilakukan.

Tidak ada interupsi dalam format ini.

Juri (adjudicator) dalam format Australs terdiri atas satu orang atau satu panel berjumlah ganjil. Dalam panel, setiap juri memberikan voting-nya tanpa melalui musyawarah. Dengan demikian, keputusan panel dapat bersifat unanimous ataupun split decision.

Di Indonesia, format ini termasuk yang pertama kali dikenal sehingga cukup populer terutama di kalangan universitas. Kompetisi debat di Indonesia yang menggunakan format ini adalah Java Overland Varsities English Debate (JOVED) dan Indonesian Varsity English Debate (IVED).

b. Debat perlementer Inggris (British Parliamentary)

Gaya debat parlementer ini banyak dipakai di Inggris namun juga populer di banyak negara. Dalam format ini, empat tim beranggotakan masing-masing dua orang bertarung dalam satu debat, dua tim mewakili Pemerintah (Government) dan dua lainnya Oposisi (Opposition), dengan susunan sebagai berikut:

                                                 (1). Opening Government:            
a)      Prime Minister   
b)      Deputy Prime Minister                                
                                                 (2). Closing Government
a)      Member of the Government    
b)      Government Whip                    
                                                 (3). Opening Opposition
a)      Leader of the Opposition
b)      Deputy Leader of the Opposition
                                                 (4). Closing Opposition
a)      Member of the Opposition
b)      Opposition Whip

Urutan berbicara adalah sebagai berikut:

(1). Prime Minister – 7 menit

(2). Leader of the Opposition – 7 menit

(3). Deputy Prome Minister – 7 menit

(4). Deputy Leader of the Opposition – 7 menit

(5). Member of the Government – 7 menit

(6). Member of the Opposition – 7 menit

(7). Government Whip – 7 menit

(8). Opposition Whip – 7 menit

c. Debat perlementer Amerika

Debat parlementer Amerika Serikat diikuti oleh dua tim untuk setiap debatnya dengan susunan sebagai berikut:

(1). Government

a) Prime Minister (PM)

b) Member of the Government (MG)

(2). Opposition

a) Leader of the Opposition (LO)

b) Member of the Opposition (MO)

d. Debat parlementer Asia (Asian Parliamentary)

Debat ini dikembangkan dari format Austlals perbedaannya dengan format Australs adalah adanya interupsi (point of information) yang boleh diajukan antara menit pertama dan menit ke emam ( hanya untuk pidato utama tidak pada pidato penutup)

3). Debat Proposal

Dalam gaya Debat Proposal (Policy Debate), dua tim menjadi penganjur dan penentang sebuah rencana yang berhubungan dengan topik debat yang diberikan. Topik yang diberikan umumnya mengenai perubahan kebijakan yang diinginkan dari pemerintah. Kedua tim biasanya memainkan peran Afirmatif (mendukung proposal) dan Negatif (menentang proposal). Pada prakteknya, kebanyakan acara debat tipe ini hanya memiliki satu topik yang sama yang berlaku selama setahun penuh atau selama jangka waktu lainnya yang sudah ditetapkan.

Bila dibandingkan dengan debat parlementer, debat proposal lebih mengandalkan pada hasil riset atas fakta-fakta pendukung (evidence). Debat ini juga memiliki persepsi yang lebih luas mengenai argumen. Misalnya, sebuah proposal alternatif (counterplan) yang membuat proposal utama menjadi tidak diperlukan dapat menjadi sebuah argumen dalam debat ini. Walaupun retorika juga pentin dan ikut mempengaruhi nilai setiap pembicara, pemenang tiap babak umumnya didasari atas siapa yang telah “memenangkan” argumen sesuai dengan fakta pendukung dan logika yang diberikan. Sebagai konsekuensinya, juri kadang-kadang membutuhkan waktu yang lama untuk mengambil keputusan karena semua fakta pendukung harus diperiksa terlebih dahulu

4). Debat Lincoln-Douglas

Nama gaya debat ini diambil dari debat-debat terkenal yang pernah dilakukan di Senat Amerika Serikat antara kedua kandidat Lincoln dan Douglas. Setiap debat gaya ini diikuti oleh dua pedebat yang bertarung satu sama lain.

Argumen dalam debat ini terpusat pada filosofi dan nilai-nilai abstrak, sehingga sering disebut sebagai debat nilai (value debate). Debat LD kurang menekankan pada fakta pendukung (evidence) dan lebih mengutamakan logika dan penjelasan.

Di Indonesia, format debat ini belum populer dan belum ada kompetisi reguler

4. Taktik-Taktik Debat

  1. Dalam buku Tatik Berdebat (1970: 17-91)

1.) Menolak argumentasi lawan secara langsung

a. Mana faktannya?”

Metode ofensif ini menyangkal denga serta merta fakta yang dikemukakan dengan pihak lawan. Dikatakan, bahwa apa yang merupakan dasar pendapatnya itu tidak tepat, berbeda dengan apa yang sesungguhnya terjadi, lain dari pada situasi yang sebenarnya. Cara ini sangat amat sederhana tetapi menyebabkan silawan mudah kehilangan akal atau sekurang-kurangnya tak sempat mengemukakan pokok pikirannya, karena kadang-kadang bukti sulit didapat tidak tersedia, tidak bijaksana untuk diumumkan.

Taktik ini sebaiknya dipergunakan dalam kesempatan-kesempatan seperti antara lain :

(1). dalam pengadilan khususnya para pembela bila mana lawan

(2). mengemukakan secara kebetulan, tanpa persiapan

(3). untuk menolak permintaan yang belum mau dikabulkan

(4). sebagai pembelaan diri untuk melemahkan serangan lawan

b. “sebabnya bukan itu!”

Dalam taktik ini pihak lawan diperlemah dengan menolak dasar pemikirannya sehingga pendapatnya tidak beralasan atau kurang meyakinkan

c. “Apalagi!” dan “Sebaliknya!”

Debat dengan menggunakan siasat apalagi dapat dipergunakan untuk melawan pendapat atau argumen yang kurang didasarkan atas pengalaman atau fakta sehingga mudah digoyahkan.

2.) Menolak argumentasi lawan secara tidak langsung.

a. Gunakan pisau analisa!

Taktik debat jenis ini yakni menyerang lawan dengan menariknya dari pokok persoalan yang lebih mendetail dan tidak dikuasainya sehingga membinggungkannya. Taktik ini juga dapat diguankan untuk membelokkan materi sebelumnya kedalam materi yang kita kuasai

b. Bandingkanlah dengan hal yang sejajar.

Maksud dari metode ini adalah menolak atau menyerang pendapat lawan, kesimpulan atau penilaiannya dengan memperhatikan hal yang serupa mengakibatkan pandangan atau kesimpulan yang berlainan dan itulah yang tepat.

c. Bersikaplah konsekwen

Maksud dari metode ini mematahkan tuntutan lawan, yang ingin diterapkan kepada lain, karena dia sendiri bertindak sebaliknya atau tidak mau melaksanakannya sendiri. Metode ini menelanjangi akal licik lawan itu dengan membeberkan perbuatanya yang tidak sesuai dengan tuntutannya itu. Lawan yang berperasaan itu akan malu dan menghentikan tuntutannya itu agar rahasia pribadi atau kelompok tidak terbuka terus dimuka umum dan kepercayaan sama sekali.

d. Bercerminlah pada dirimu!

Maksud metode ini membuat lawan menjadi malu karena kita menunjukan kembali catatanya sendiri yang sama, serupa ataupun lebih beratnya. Dengan demikian lawan akan mundur atau tutup mulut, sebab menyadari, bahwa dirinya juga memiliki catatan yang serupa.

e. Bagaimanakah kalau semua berbuat demikian?

Maksud metode ini untuk menolak atau melawan pendapat lawan yang jika berlaku secara umum akan membawa akibat yang tidak dapat diterima. Penolakan ini bukan karena gagasan itu sendiri adalah buruk tetapi penerapanya yang umum akan menimbulkan hal-hal yang harus ditolak.

f. Tambah ini, tambah itu stop!

Maksud metode ini menolak usul lawan yang diupandang sendiri-sendiri, terpisah dari hal-hal lainnya masuk akal Menolak usul atau gagasan lawan yang membebankan kita dengan menghubungkan dengan hal-hal lain yang agak sama. Namun jika tidak sesuai harus ditolak

3.) Menggunakan argumentasi lawan sediri

a. Melebih-lebihkan

Dari gagasan lawan yang logis ditarik kosekwensi yang berlebih-lebihan, sehingga yang diucapakan itu menimbulkan kesan yang aneh, tidak masuk akal. Kensekwensi yang berlebihan ini membuat dasarnya yaitu gagasan maksud ucapan lawan menjadi lemah lawan dijatuhkan dengan gagasannya sendiri. ungkapan yang berlebihan akan menimbulkan hal yang aneh atau tidak masuk akal. Maksud dari metode ini adalah kita harus tahu pendapat lawan itu berlebihan atau tidak, jika berlebihan kita tarik kosekowensi yang berlebihan sehingga menimbulkan kesimpulan yang tidak maksud akal. Contohnya:

Kepala SMA : Ibu Tuti wali kelas 3A harap menjaga sopan santun dan disiplin murit kelas itu!

Ibu Tuti : Apa saya harus menjadi pengasuh anak-anak, yang setiap hari memeriksa rambut, kuku, dll? Mereka cukup dewasa duduk di SMA.

Kepala SMA : Maksud saya, agar pergaulan muda-mudi sopan dan tahu batas.

Ibu Tuti : Oh, kalau begitu saya harus mendidik mereka seperti rumah novisiat atau seminari

b. Mengubah ucapan lawan sedikit

Menyerang dengan cara mengubah ucapan lawan, tetapi perubahan itu jangan terlalu mencolok, sebab bisa dengan mudah ditolak. Buatlah lawan tidak menyadari perubahan itu. Mengubah arti ucapan bisa dengan memperluas arti, memperkasar ucapan lawan, membelokan maksud. Contohnya:

A : Pada prinsipnya saya setuju, bahwa penghianatan terhadap

sumpah prajurit harus dihukum, tetapi cara pelaksanaannya

saya tidak setuju!

B : Jadi Sdr. ingin, penghianat-penghianat itu dibebaskan? Itu

bertentangan dengan keadilan.

A : Itu tidak saya katakan! Sdr. mengarang dan mengubah arti

kata-kata saya!

B : Tidak! Tetapi itu yang Sdr. maksudkan.

4.) Menujuk pada segi atau sudut lain dari pendapat atau argumen lawan

a. Tidak ada gading yang tak retak

Segala sesuatu itu tidak ada yang sempurna ada kelebihan dan kelemahannya, taktik ini digunakan untuk argumen yang berat sebelah. Uangkapakan juga hal buruk yang menjadi kelemahan argumen lawan.

b. Berdialektika

Maksud taktik ini untuk melemahkan gagasan atau tidakan lawan dengan mengemukakan pandangan gagasan yang bertentangan meskipun dengan keduanya terdapat segi-segi kebenaran. Tatik ini biasanya digunakan untuk memaksa lawan tidak bersitegang mempertahankan, bahwa pendapat atau argumennya adalah satu-satunya yang benar. Lawan dipaksa untuk mempertimbangkan pendapat atau gagasan pihak lainnya sehingga terjadilah suatu kompromi.

5.) Mengalihkan pokok pembicaraan kepada hal-hal lain

a. Melarikan diri pada hal-hal umum

Maksud dari metode ini mengalihkan perhatian dari persoalan lawan yang khusus pada persoalan yang lebih umum, yang tidak dimaksudkan oleh lawan itu sehingga tidak mencapai hasil seperti yang diharapkan lawan, karena kedua belah pihak bertitik tolak pada dua dasar yang berbeda. Cara mengalahkan lawan, tunjukkan dengan tegas bahwa dia mengalihkan atau melarikan diri pada hal-hal umum dan tidak “to the point”! setiap kali orang itu ingin melarikan diri tema segera pula kita peringatkan lagi jangan beri kesempatan kepada lawan.

b. “jikalau” dan “akan tetapi”

Maksud dari metode ini adalah menolak secara tak langsung pendapat atau usul lawan dengan mengemukakan kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan atau sekurang-kurangnya melemahkan segi baik dari pada pendapat atau usul lawan itu. Sehingga lawan mulai terpelosok oleh taktik ini dan terpengaruh oleh kemungkinan-kemungkinan yang dikemukakan pihak lain sehingga dengan mudah digoyahkan.

c. Salah tarik!

Metode salah tarik merurapakan penarikan kesimpulan yang seolah-olah tampak benar tetapi sesungguhnya salah karena menjadikan suatu yang khusus menjadi dasar hukum yang seakan-akan berlaku umum.

d. Mencap

Maksud dari metode ini menyerang argumen lawan dengan mencap pandangan atau pribadi dari pada si lawan itu sebagai penganut aliran, golongan, ideologi, yang buruk dimata masyarakat. Dengan cara begitu, lawan dipaksa untuk membela diri dan dihindari untuk menyerang, karena cap yang diberikan padanya dapat berbahaya sekali bagi dirinya lebih-lebih dalam debat politis atau ideologis.

e. Mensetir

Menyerang argumen lawan dengan mengutip atau mensetir ucapan-ucapan atau pandangan ahli-ahli yang ternyata bebeda dengan pendapat dan argumennya. Pendapat orang-orang terkemuka lebih dapat dipercayai sebagai sesuatu yang benar sehingga orang malu atau segan melawan pendapat seorang ahli.

f. Main tersinggung

Maksud dari metode ini adalah menyinggung lawan secara tak langsung melalui ”sindiran”, yang dimaksudkan untuk memancingnya. Kelau lawan terpancing, maka tercapailah maksud. Taktik ini berhasil kalau lawan sungguh-sungguh tersingung dan menanggapi ucapan lawannya lalu bereaksi emosionil, sehingga mudah dibawa ke hal yang merugikannya. Tetapi jika lawan tidak melayani “sindiran” patahlah taktik ini.

6.) Menghindari pokok-pokok pembicaraan

a. Menolak tema!

Tema yang dikemukakan lawan ditolak atau dihindari. Penolakan tema itu berdasrkan alasan:

(1). tema tidak berguna didebatkan sekarang, hanya akan membuang-buang waktu saja.

(2). tema itu melemahkan posisi kita, karena misalnya belum siap, belum mempelajarinya, merugikan kelompok atau pribadi kita.

b. Menyerang dari belakang

Argumen lawan tidak diserang langsung namun dipukul dari belakang. Dapat dilakukan dengan cara mengemukakan dasar sejarah yang melatar belakangi argumen lawan itu, menganalisa latar belakang psikologis lawan itu sendiri. Kita dapat melawan orang yang menggunakan taktik ini dengan cara menyerang kembali lawan dengan taktik yang sama.

c. Melantur

Melantur maksudnya berbicara hilir-mudik tanpa isi dan tujuan tertentu, sitir sana sitir sini, ucapan-ucapannya tidak berhubungan tidak berhubungan satu sama lainnya (ngawur). Taktik ngawur dapat dihentikan dengan cara:

(1). menghentikan bualan si pembicara dan menanyakan apa maksudnya, jangan membiarkan dia berbicara hilir mudik.

(2). kita menunjukan bahawa lawaan hanya omongkosong

(3). alihkan kembali kepada tema.

d. Caranya ditolak

Taktik ini tidak menolak isi pendapat lawan, tetapi menolak caranya saat mengemukakan pendapat. Taktik ini sering digunakan oleh kaum wanita dan orang-orang yang berkedudukkan tinggi. Maksud metode ini adalah dengan menolak cara serangan lawan berusaha menghindari perdebatan tentang isi pendapat lawan itu sendiri

7.) Menyerang dengan semu

a. Mengambil hati

Mengambil hati supaya akhirnya melepaskan argumen atau pendapatnya dan menerima pendapat kita. Maksud metode ini adalah membawa lawan kepada suatu keadaan, yang membuat dirinnya serba salah pilih pilih ini salah, pilih itu salah. Dalam keadaan bingung ini, lawan dapat dikalahkan dan diserang argumennya.

b. Dilema semu

Membuat lawan kepada suatu keadaan yang membuat dirinya serba salah pilih. Dalam keadaan bingung ini lawan dapat dikalahkan dan diserang argumen-argumennya.

  1. Menurut Dori Wuwur Hendrikus (1990:132-141)

1) Tatik afarmasi

Termasuk dalam taktik afarmasi adalah:

a. Taktik”ya”

Pernyataan harus dirumuskan sedemiakian rupa agar lawan menjawab “ya”, dan pelahan-lahan menuntutnya menuntutnya kepada kesimpulan akhir yang jelas atau mengejutkan, yang harus diterima tanpa syarat.

b. Taktik mengulang

Pembicara menyampaikan pikiran dan idenya secara terus menerus dngan cara dan rumusan yang berbeda dan menarik. Yang perlu diperhatikan adalah hal yang diulang mengandung ide yang positif dan benar. Cara ini dapat membuat lawan bicara menaruh perhatian kepada ide yang diajukan.

c. Taktik sugesti

Taktik ini bermaksud mempermudah lawan bicara untuk menyetujui pikiran, ajuran dan hasil pertimbangan.

d. Taktik kebersamaan

Apabila menghadapi kesulitan dalam diskusi, sering satu himbauan untuk menumbuhkan rasa kebersamaan, atas sukses yang diraih bersama sampai saat ini dapat membantu keluar dari jalan buntu.

e. Taktik kompromi

Untuk mencapai keseimbangan rasional dalam situasi yang sulit. F. Schleger mengatakan: perbedaan pendapat justru memperkuat kesepakatan yang murni.

f. Taktik konsensus

Taktik ini menampilkan di depan mata pendengar rangkuman pendapat kita yang sudah disetujui dan mengerakan hati mereka untuk menuruti pendapat kita, menyetujui perjanjian yang dibuat, menerima anjuran atau membeli hasil pruduksi.

2) Taktik defensif

a. Taktik mengelak

Dapat terjadi bahwa pikiran atau pendapat pembicara diragukan. Pembicara mendapat kesulitan untuk menjelaskan posisinya. Dalam kesempitan dan kesulitan seprti ini, pembicara menyebutkan kutipan atau ucapan seorang ahli sehingga lawan bicara dapat dikonfrontasikan langsung dengan pendapat ahli tersebut.

b. Taktik “ya….tetapi”

Menurut taktik ini, kita menghargai dan menyetujui pendapat lawan bicara, tetapi aplikasinya disesuaikan dengan pendapat kita. Ini adalah satu cara untuk menyimpang secara halus dari titik tolak lawan bicara.

c. Taktik mengangkat

Untuk memperoleh persetujuan peserta atas pendapat kita, kita mengankat dan menghormati pendapat yang berbeda dari lawan bicara. Dengan iti dia dapat lebih baik belajar menghargai pendapat kita.

d. Taktik berterima kasih

Orang datang kepada kita dengan banyak kesulitan yang membebani. Kita mengucapkan terima kasih kepadanya atas informasi itu, meskipun tidak menyenangkan kita, tetapi justru dengan mrka dibebaskan dari teknan emosional

e. Taktik merelativasi

Taktik ini menempatkan keberatan lawan bicara kedalam konteks dan relasi, sehingga dengan itu pendapatnya menjadi relatif ( sambil berhati-hati bahwa sebaliknya pendapatnya sendiri dapat direlativasi)

f. Taktik menguraikan

Apabila lawan bicara menyampaikan seonggok keberatan, kesulitan dan kritikan, maka kita menuraikan dan menganalisis semua beberan itu satu prsatu secara teliti, sambil menunjukkan titik-titik lemahnya.

g. Taktik membiarkan

Taktik ini membiarkan lawan bicara menyampaikan maksud dan pikiran, sementara kita mendengarkan dengan penuh perhatian, tanpa memberikan reaksi. Yang penting ialah tidak menghalangi pembicaraannya, kecuali ada pertanyaan.sesudah selesai, kita menjelaskan sambil memberikan tanggapan yang bertentangan dangan pendapatnya.

3) Taktik ofensif

a. Taktik antisipasi

Sementara lawan bicara menyampaikan pendapat, kita sudah mengantisifasi kelemahannya. Sesudah itu kita langsung menjatuhkan pendapatnya dengan mengemukakan argumentasi kontra.

b. Taktik menggetkan

Lawan bicara menentang dengan satu pertanyaan negatif. Kita mengejutkan dia dengan suatu petanyaan balik dengan satu jawaban balik dari sudut pandangan yang tak diduganya. Contoh: justru karena itulah……

c. Taktik bertanya balik

Taktik ini melemparkan kepada lawan biara satu pertanyaan balik yang menyebabkan dia melepaskan pendasaran kebaratannya, dan menerima kekeliruannya sendiri. Contoh: Apakah tidak mungkin bahwa….?

d. Taktik provokasi

Taktik ini memaksa lawan bicara untuk berbiara terus terang. Ini adalah satu pertanyaan agresif, yang sering digunakan oleh para wartawan. Contoh: saya meragukan pendapat itu.

e. Taktik mencakup

Taktik ini melihat argumentasi lawan dengan satu pengamatan yang mencakup dan lebih tinggi, sehingga dengan itu argumentasi itu sendiri dilemahkan dan tidak berlaku untuk dirinya sendiri. Contoh: jawaban “tidak” dari anda, padahal mulanya sebenarnya adalah “ya”.

f. Taktik melebih-lebihkan

Lewat taktik ini orang secara sadar melebih-lebihkan pernyataan lawan bicara (pernyataan ekstrem) untuk mempengaruhi lawan bicara atau supaya supaya dia menarik kembali pernyataannya.

g. Taktik memotong

Taktik ini digunakan untuk mengontrol pembicaraan yang berbicara terlalu banyak. Pembicaraannya dipotong dengan tiba-tiba dengan alasan untuk menyampaikan sesuatu yang peting. Contoh: bolehkah saya menyampaikan sesuatu yang penting secara singkat?

4) Taktik negasi

a. Taktik “tidak”

Taktik ini menyangkal lawan bicara secara langsung, karena menuntut penjelasan yang tuntas. Di lain pihak cara ini dapat menciptakan permusuhan, karena melukai lawan bicara. Oleh kerena itu sebaiknya mengemukakan pernyataan-pernyataan retoris. Contoh: Bukan, itu tidak benar!

b. Taktik kontradiksi

Taktik ini mengemukakan penyataan kontradiktoris (pertentangan secara esensial) atas apa yang dikatakan lawan bicara. Contoh: meskipun keberatan anda itu benar, tetapi tidak membuktikan apa-apa!

5. Syarat-Syarat Susunan Proporsi

  1. Menurut Tarigan (1984: 93-96)

1.) Kesederhanaan

Usul-usul yang rumit dan terbelit-belit menyebabkan analisa yang sukar. Senakin sederhana suatu pernyataan maka semakin bergunalah bagi perdebatan yang sedang berlangsung.

2.) Kejelasan

Pernyataan-pernyataan yang samar-samar dan tidak jelas menimbulkan berbagai ragam penafsiran yang timbul dalam perdebatan yang membingungkan.

3.) Kepadatan

kata-kata hendaklah dipergunakan sesedikit mungkin dan sepadat mungkin. Kepanjanglebaran akan mengakibatkan suatu usul menjadi tidak praktis dan menyebabkan salah pengertian.

4.) Susunan kata afirmatif

Usul yang negatif seakan-akan dapat memutarbalikkan posisi-posisi afirmatif dan negatif. Susunan kata suatu usul hendaknya bersifat afirmatif atau mengiakan; jangan bersifat negatif atau meniadakan.

5.) Pernyataan Deklaratif

Suatu pernyataan yang tegas lebih disukai, lebih baik dari paa suatu pertanyaan. Pertanyaan pada umumnya dipergunakan bahi diskusi karena maksud dan tujuannya adalah menyelidiki.

6.) Kesatuan

Sebuah gagasan yang tunggal sudah cukup bagi satu perdebatan. Misalnya usul “Badan pembuat undang-undang haruslah mengadakan pemilihan wajib dan haruslah membuat registrasi tetap” mengandung dua buah pukuk perdebatan berbeda: “ pemilihan wajib” dan “registrasi tetap.

7.) Usul khusus

Usul-usul yang bersifat umum akan mengakibatkan perdebatan-perdebatan yang terpencar dan tidak memuaskan.Hendaknya usul dibuat se khusus mungkin.

8.) Bebas dari purbasangka

Bahasa yang purbasangka akan memperkenalkan asumsi-asumsi atau pra anggaran yang tidak tepat ke dalam usul.

9.) Tanggung jawab untuk memberikan bukti yang memuaskan terhadap afirmatif.

Susunan kata usul hendaknya dibuat sebaik dan secepat mungkin sehingga pembicara afirmatif akan menganjurkan serta menyokong suatu perubahan.

6. Etiket atau Norma dalam Berdebat dan Bertanya

Menurut Mulgrave (1954: 45) sepeti yang dikutip Tarigan (1984:92-93) semua pembicaraan hendaknya memiliki:

1). Pengetahuan yang sempurna mengenai pokok pembicaraan

2). Kopetensi atau kemampuan menganalisis

3). Pengertian mengenai prinsip-prinsip argumentasi

4). Apresiasi terhadap kebenaran-kebenaran fakta

5). Kecakapan menemukan buah pikiran yang keliru dengan penalaran

6). Keterampilan dalam pembuktian kesalahan

7). Pertimbangan dan persuasi

8). Keterarahan, kelancaran, dan kekuatan dalam cara atau penyapaian pidato.

ampThu, 16 Oct 2008 08:47:01 +000047Kamis 17,2008 - Posted by | Debat |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: