Taritere’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Cerpen

Cerita Kakek Tentang Hutan Hitam

Pulang sekolah Adek ke rumah kakek, Tetapi ibu marah, soalnya Adek belum bilang kepada ibu. Sekarang Adek akan memberitahu ibu jika ke rumah kakek, supaya ibu tidak cemas lagi.

Setiap hari sabtu Adek pergi ke rumah kakek lalu menginap disana, karena besoknya hari libur. Sebelum Adek tidur, dia selalu bercerita. Ceritanya kakek seperti ini.

Hutan Hitam, hutan ini penuh dengan pepohonan yang lebat.

“Coba Adek!, kakek bertanya, mengapa hutan itu dinamakan Hutan Hitam?”

“Tidak tahu Kek” jawab Adek.

“Disebut Hutan Hitam kerena gelap gulita tidak ada sinar matahari, jika seseorang masuk ke hutan itu mereka tidak bisa melihat apa-apa. Setiap orang yang masuk ke hutan itu mereka tidak dapat kembali lagi.”

“Kek, hutan itu berada dimana?” tanya Adek,

kemudian jawab kakek. “Hutan Hitam itu, ada di seberang jurang dekat Sungai Batu, jurang itu berguna agar seseorang tidak dapat memasuki Hutan itu. Biasanya anak-anak yang suka bermain hingga larut malam mereka akan dibawa oleh Ratu Hutan Gelap.”

“Kakek, Adek takut!”

“Yah sudah, kalau Adek takut jangan jadi anak nakal!”

“Ia Kek, Adek tidak nakal!” jawab Adek,

“Adek sekarang sudah ngantuk?” tanya kakek, Adek hanya menjawab dengan mengangukan kepala saja.

“Ayo sekarang bobo, jangan bobo malam-malam!” kata kakek.

Ke esokan harinya Adek, Luluk, Lina, Tina dan Feri berangkat kesekolah bersama, jalan setapak merupakan jalan yang terdekat menuju sekolah, namun dipertigaan jalan. Jalan yang satu menuju ke Taman Desa dan yang satunya lagi menuju ke sekolah. Adek melihat Yanti berjalan menuju ke Taman Desa kemudian Adek memanggilnya.

”Yanti kamu mau kemana, kamu tidak sekolah?” tanya Adek sambil berteriak memanggil Yanti, namun Yanti berlari dengan cepat hingga ia hilang ditelan jalan. Kami pun meneruskan perjalanan, sambil mendengarkan Adek yang bercerita tetang cerita kakek tadi malam. Kami semua penasaran dengan jurang yang berada di ujung jalan dekat sungai Batu itu.

Pulang sekolah kami pergi melihat jurang itu dan di seberang jurang ada hutan. Hutannya tak terlihat seperti yang kakek ceritakan padaku, hutan itu bagai diselimuti awan hitam terlihat gelap cahaya matahari tidak dapat menebus. Setelah melihat dari kejauhan mengenai hutan itu kami langsung pulang kerumah kami masing-masing.

Perjalanan pulang sangat melelahkan, ketika kami sedang beristirahat, duduk dibawah pohon. Kami melihat Yanti sedang menendang tong sampah dengan sepatu barunya dan sampah-sampah dibiarkan berhamburan.

”Yanti, tong sampah kok buat mainan, emangnya bola, jadi kotorkan!” Tegur Adek yang segera berdiri.

”Ia, Yanti kasihankan yang sudah nyapu!” kata Lina

”Emangnya kenapa, suka-suka aku dong, lihat nih aku punya sepatu baru kalian ngak mungkin punya sepatu baru kaya aku Ha…ha…!”

”Kamu memang anak orang kaya ngak seperti kami, tapi kamu harus ngehargain dong yang sudah capek-capek nyapu!” lanjut Feri.

”Kamu bilang gitu kamu irikan, tidak punya sepatu baru!” kata Yanti lagi,

”Ih siapa yang iri, PD banget deh!” kata Luluk dengan kesal.

”Yanti, kamu harus tanggung jawab, bersihikan lagi tuh sampahnya!” kata Tina

”Idih males, kalian aja deh, emangnya aku ini tukang sapu!” kata Yanti sambil pergi meninggalkan tempat itu. ”Dada… bersihkan ya!”

”Ih sebel banget deh!” keluh Luluk. Kemudian kami membersihkan sampah-sampah itu dan melanjutkan perjalanan.

Adek ingin mengetahui bagaimana kisah selanjutnya? Tak disangka besok hari libur, Adek dan teman-temannya telah berjanji mau ke rumah kakek untuk mendengar kelanjutan ceritannya lagi. Tetapi sebelum kerumah kakek kami harus meminta ijin kepada orang tua supaya orang tua kami tidak cemas dan kuatir.

Ternyata, kakek sudah menunggu kedatangan kami, di atas meja tersedia permen, biskuit dan coklat, kami senang sekali. Seperti biasa sebelum Adek tidur, Adek ingin diceritakan lagi, teman-teman Adek pun penasaran tentang cerita itu lalu kata kakek

“Sebelum kakek cerita… ayo gosok gigi dulu dan cuci kaki!”

“Ia Kek, jawab kami!”

“Ayo Kek, ceritakan lagi!”

“Baiklah.” Jawab kakek.

Jaman dahulu itu ada seorang Ratu yang wajahnya menyeramkan, kulitnya hitam, bajunya hitam, giginya serta kuku-kukunya hitam semuanya serba hitam.

“Kek, mengapa semuanya serba hitam?” tanya Luluk.

“Serba hitam karena pengaruh jahat”

“Pengaruh jahat itu apa Kek?”

“Ia nanti kakek jelaskan”

Waktu itu, ada seorang gadis yang cantik kulitnya putih bersih, rambutnya panjang dan bajunya bagus. Hari itu ketika gadis kecil pulang sekolah, gadis itu bertemu seorang nenek.

“Kek, gadis itu namanya siapa?” tanya Feri penasaran.

“Oh ia Kakek belum kasih tahu yah, gadis itu bernama Ratu Goreti”

“Kakek ayo teruskan ceritanya” kata Tina tidak sabar mendengar kelanjutan ceritanya.

Nenek itu sebenarnya adalah malaikat yang menyamar barang siapa menyambutnya dengan baik akan diberi berkat tetapi jika sebaliknya dia tidak akan diberi berkat itu.

Di jalan sewaktu pulang sekolah Ratu melihat seorang nenek yang pincang memakai tongkat tetapi Ratu dengan sengaja mendorongnya hingga nenek itu terjatuh. Ratu malah memarahi nenek itu.

“Nenek, kalau jalan itu yang benar dong matanya ditaruh dimana sih?” kata Ratu dengan suara marah.

Di rumah Ratu selalu memangil pembantunya dengan berteriak dan marah-marah, jika keinginannya tidak dituruti maka ia akan mengancam, melaporkannya kepada orang tua agar dipecat.

Pada waktu itu ketika Ratu berada di taman, kebetulan disana ada sebuah pesta tiba-tiba datanglah seorang pengemis yang pincang dan penuh borok. Pengemis itu meminta makanana kepada Ratu.

“Non, saya minta makan Non soalnya saya belum makan!”

Jawab Ratu dengan kasar “Kamu kok berani datang kesini, disini bukan tempat kamu, tidak ada makanan pergi kamu dari sini!”

Kemudian Ratu memerintakan anjing-anjingnya menjilati borok pengemis itu dan saking laparnya pengemis itu, dia memakan makanan anjing lalu pengemis itu diusir oleh pelayannya.

Ratu juga tidak menuruti perintah orang tua, jika dia dilarang Rantu semakin memberontak. Ketika itu Ratu sedang berjalan-jalan di Hutan Hitam dahulu hutan itu tidak gelap karena tidak ada awan hitam yang menyelimutinya. Disana Ratu bertemu dengan Zin jahat melihat sifat Ratu yang begitu buruk, Zin itu senang sekali. Dia menyamar seperti malaikat yang baik.

“Ratu…Ratu…!”

“Siapa itu, mengapa tahu namaku?” tanya Ratu

“Aku, Hilda malaikat hutan ini, aku ingin memberi kamu hadiah”

“Aku mau” jawab Ratu

“Baiklah, aku ingin memberimu kekuatan. Maukah kamu? Jika mau makanlah buah yang ada di tengah hutan ini maka kamu akan mendapat kekuatan yang luar biasa”Ratu pergi ke hutan memcari buah itu, karena rakusnya Ratu menghabiskan buah itu sampai ketiduran. Ke esokan harinya Ratu pulang dan ternyata memang benar apa yang dikatakan Zin yang menyamar sebagai malaikat penjaga hutan bahwa ia mendapat kekuatan.

Dengan kekutan itu Ratu selalu melakukan kejahatan. Setiap Ratu berbuat jahat wajahnya yang cantik semakin jelek, tetapi semua itu tidak disadarinya. Sampai wajahnya sangat jelek ia menjadi malu pergi ke hutan dan bersembunyi di tempat itu. Melihat semua itu malaikat Tuhan membuat jurang agar Ratu tidak memasuki Desa dan tidak berbuat jahat di tempat itu.

Setalah kakek bercerita Adek dan teman-temannya sudah tertidur. Kakek dengan perlahan-lahan keluar kamar, meninggalkan mereka. Pada tengah malam tiba-tiba terdengar suara seperti gelombang ombak dan terlihat cahaya putih yang begitu indah ada disudut ruangan. Dibalik cahaya putih yang bersinar itu ada seorang wanita yang sangat cantik. Pakaiannya putih dan angun. Sinar dan suara itu mengugahkan kami dari mimpi, kami semua terpesona melihat cahaya yang memancar dari wajah dan pakaiannya.

“Selamat malam anak-anak!, namaku Dewi Rosaliana, aku adalah malaikat penjaga anak-anak. Kalian adalah anak-anak yang baik, pergilah ke hutan itu sekarang juga dan selamatkanlah teman kalian”

Malaikat itu langsung menghilang kami semua tersentak kaget, dan bertanya dalam hati siapa teman kita yang harus deselamatkan seperti yang diungkapkan malaikat itu. Dengan tidak banyak berpikir, kami mempersiapakan barang-barang yang akan dibawa seperti senter, makanan kecil yang tadi siang kakek berikan, obat-obatan jika sakit dll.

Malam itu kami pergi ke hutan, entah mengapa di jurang ada sebuah jembatan emas kami berjalan lewat situ. Di tengah hutan ada sebuah pohon yang buahnya bilatung dan ular, di sampingnya ada istana yang mewah dan indah.

Setelah kami masuk kedalam istana ternyata isinya menyeramkan lantainya adalah lumpur yang menjijikan, disana ada teman kita yang bernama Yanti. Yanti diikat di sebuah tiang. Ikatannya itu, seperti ular yang panjang dan meliliti badan Yanti. Dia berteriak “Tolong…tolong…!”

Namun tak satu pun orang yang mendengarnya. Kami melihat Yanti di paksa untuk memakan buah bilatung, tetapi Yanti menolaknya.

“Ayo makan, nanti kamu mendapat kekuatan!” perintah nenek sihir itu

“Tidak…!” jawab Yanti sambil mengelang-gelengkan kepala.

“Ayo makan!” kata nenek sihir itu dengan marah namun yanti tetap mengelang-gelangkan kepala, kemudian nenek sihir marah,dengan meleparkan buah tadi lalu pergi meninggalkan Yanti.

“Adek, Luluk takut, Luluk pengen pulang!”

“Luk, tenang saja malaikat penjaga anak-anak akan selalu menjaga kita!”

kata Adek.

“Ia benar,”jawab Feri menambah

“Teman-teman, nenek sihir tadi siapa yah?”tanya Tina

“Mungkin nenek yang seperti nenek sihir tadi adalah Ratu yang diceritakan kakek!” jawab Lina.

“Terus bagaimana cara menyelamatkan Yanti?” tanya Luluk

“Kata kakek, kita serahkan kepada Tuhan!”

Mereka berdoa di tempat itu, setelah mereka berdoa Malaikat itu datang dan berkata

“Anak-anakku, ambillah dua kayu bambu yang ada di depan kalian, kayu bambu itu dapat menghilangkan sihir dari Ratu yang jahat, untuk menghancurkan Ratu kalian harus memotong pohon yang ada ditengah hutan itu. Jika kalian berhasil Ratu akan kehilangan kekuatannya karena usianya sudah lebih dari seribu tahun maka dia akan mati, lakukanlah semua itu dan jagan lupa berdoa!”

“Terimakasih malaikat!” jawab kami, serempak

“Feri dan lina kalian potong pohon itu, sedangkan yang lain bersamaku menyelamatka Yanti!” kata Adek

“Baiklah!” jawab Feri

Kemudian mereka melakukan apa yang diperintahkan malaikat itu. mengambil bambu tadi dan mendekati Yanti yang pingsan karena ketakutan. Perlahan-lahan Adek menyentuhkan bambu itu ke ular dan ular tadi menghilang. Yanti kemudian dibawa keluar istana dibopong oleh Luluk dan Lina, sedangkan Adek mengawasi mereka dari ular-ular yang berusaha mengagalkannya

“Ayo cepat dong Luluk, Lina! Nanti kalau Ratu melihat kita bisa gawat.” Kata Adek dengan suara yang sangat kecil.

“Ia, kita juga tahu, Tapi Adek gak tahu apa ini berat banget.”keluh Lina, kepada Adek yang maunya tergesa-gesa.

“Adek awas… ada ular teriak Luluk.” Sambil menunjukkan jarinya ke bawah.

“Jangan teriak-teriak Luluk!” Kata Lina. Adek langsung bertindak. Mereka berjalan menuju pintu keluar, dipintu itu ribuan ular datang.

“Adek Luluk takut! Itu ularnya banyak, cepet dong Adek itu ularnya semakin banyak” keluh Luluk.

“Ia, Luluk Adek juga tahu, Tenang-tenang jangan takut”jawab Adek. Kemudian dengan Adek dengan cepatnya menyentukkan kayu itu ke ular-ular yang berbisa itu. Mereka pun dengan cepat berlari keluar istana. Setelah berada di luar istana Yanti diobati supaya sadar.

Sedangkan Tina dan Feri di yang beri tugas untuk memotong pohon bilatung dengan sebuah bambu yang runcing. Pohon bilatung itu menjijikan sekali warnanya coklat, bukan menyerupai pohon tetapi menyerupai gundukan tanah yang tingginya kira-kira dua meter dan sangat lembek seperti tanah yang lengket karena tercampur air, tak berdaun hanya berpuluhan bilatung bergelantungan.

Ketika nenek sihir tahu bahwa ada anak-anak, nenek sihir ingin membunuh mereka dengan pedang yang tajam dan runcing-runcing, ketika nenek tersebut mau melemparkan pedang tersebut. Syukurlah Tina dan Feri telah memotong pohon bilatung. Kejadian itu membuat nenek sihir menjadi lemas, tak berdaya kemudian bilatung penuh mengerogotinya hinga tulang-tulang. Nenek itu membusuk dan mati kemudian hal yang ajaib terjadi hutan itu mulai bercahaya melalui celah-celah dedaunan dihutan, ketika kami pulang jurang pemisah menjadi hilang hutan menyatu dengan pedesaan.

Ternyata sesampainya di rumah kakek, banyak orang mencari kami. Kami menceritakan kejadian yang kami alami kepada kakek dan meminta maaf kalau kami pergi tidak bilang-bilang dahulu dan membuat kakek cemas bahkan semua orang kampung mencari kami.

Kakek tidak marah kepada kami malah kakek bilang kami adalah anak-anak pemberani. Yanti mengaku kepada orang tuanya dia tidak pergi kesekolah, Yanti bercerita dia bolos malah pergi ke Taman Desa. Waktu hari semakin sore Yanti belum pulang juga. Malah bermain-main hingga larut malam, di jalan sepi tinggal Yanti seorang diri. Waktu itu Yanti lupa jalan pulang ia berjalan dan terus berjalan hingga akhirnya ia sampai di istana Ratu, yang pada akhirnya Yanti di sekap oleh Ratu Jahat tadi.

Orang tua Yanti pun berterima kasih kepada kami karena telah menolongnya, Yanti meminta maaf kepada ayah, ibu, Adek, Luluk, Lina, Tina dan Feri karena kelakuannya yang tidak baik. Yanti kemudian berjanji kepada orang tuanya tidak nakal lagi.

Bukan hanya itu, seluruh kampung bersukacita dan bergembira karena matahari bisa bersinar di hutan itu. Dan tak akan ada lagi nenek sihir yang selama ini meresahkan warga.

TAMAT

ampTue, 27 May 2008 07:54:44 +000054Selasa 17,2008 - Posted by | Cerita anak |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: